temu
kami bertemu dalam balutan kata walau kami saling diam membisu.
kami terhubung melalui sinyal-sinyal elektronis.
kami adalah korban jarak yang mendekat karena teknologi.
akhir
seperti yin yang, setiap sesuat dalam hidup selalu ada hal berlawanan namun melengkapi
begitupun dalam tahun-tahun yang dijalani, ada awal tahun ada akhir tahun
sekarang pun demikian, sudah akhir tahun.
ingat
beberapa waktu lalu mungkin saya masih ingusan
tapi sekarang mungkin saya orang dewasa yang masih ingusan
seberapapun dewasa saya, saya masih ingat bahwa saya masih ingusan.
maling
orang bilang kmaling itu dosa
orang bilang maling itu harus dihukum dipenjara
tapi semua orang lupa, maling itu juga manusia.
helai
bulir bening itu mengalir di pipimu lalu menelusup di helai rambut hitammu
lalu pada merah pipimu jatuh sehelai bulu mata karena air matamu
sedetik kemudian, kamu menghambur dan menangis sejadinya di bahuku.
kasih
ah..mungkin ini hanya sebatas perasaan sentimentil
tapi kadang lelaki pun butuh rasa sentimentil
rupanya, perasaan sentimentil itu berakar dari sebuah kata “rindu”
peduli
semakin banyak ketidakaturan yang membuat hidup semakin runyam
semakin banyak keegoisan menjadikan hidup dalam kecurigaan
semakin banyak ketidakpedulian merajalela, membuat kehidupan semakin getir.
rumah
kuharap, rumah adalah tempat terbaik bagi diriku
tempat berbagi keluh kesah, tempat berbagi tawa, tempat bercengkerama
ya, rumah tak sekedar tembok berbata, tapi tempat hati kembali saat lelah.
ransel
karena sebuah ransel, maka kutemukan dunia yang indah.
yang timbul karena saling berbagi.
dengan sebuah ransel, kugenggam dunia.
kerling
nakal kerlingmu, mengingatkanku hampir setahun yang lalu
kamu yang tidak mengenalku tiba-tiba hadir di hidupku, yang juga tak mengenalmu
lalu, jalinan ini merubah segala sesuatu dan memburu secepat waktu.
tinggalkan komentar